Disebuah kampung yang kecil dengan jumlah penduduk yang minoritas. Batulingga nama kampung tersebut. Batulingga diambil dari bahasa sangsekerta yang artinya KERAS BERDIRI. Konon menurut cerita orang tua dulu, batu itu sempat dijadikan sebagai tempat memuja / dikeramatkan. Tidak sedikit orang  yang mempercayai  akan tuan batu tersebut. Nauzubillah..

Banyak para pemula agama / kiyai / ulama yang berusaha untuk menghilangkan yang sangat buruk/kelakuan yang akan mengotori akidah manusia. Namun sangat sayang, perjuangan mereka harus kandas ditengah jalan, ajal yang menjemput mereka. Semoga Allah memberikan rahmat dan magfiroh nya akan arwah-arwah mereka. Amin..  Yang sangat disayangkan tak satupun anak dan cucu mereka yang bisa meneruskan perjuangan mereka. Ya Allah, semoga Engkau cepat mendatangkan seorang penerus perjuangan mereka. Amin..

Pada tanggal 04 februari 2011, datanglah seorang lelaki kurus, dengan awal tujuan melamar/meminang seorang gadis yang berada dikampung tersebut. Iwan Fazari nama pemuda tersebut. Dia seorang santri. Alhamdulillah Allah telah mengabulkan doa kami. Sempat kami bertanya-tanya didalam hati dan timbullah rasa keraguan. Karna selama dua tahun dia belum menampakan jati dirinya sebagai santri. Sering masyarakat setempat memintanya untuk segera membuka pesantren dan majlis ta’lim untuk menggantikan/meneruskan perjuangan para kiyai setempat yang telah meninggal, tapi selalu diawab dengan senyum dan tawa. Ya Allah, tolong tunjukan kepada kami  dan berikan kami seorang holifah.

Akhir tahun 2004, kembali masyarakat meminta kepada ustad Iwan agar beliau dapat menggantikan abah haji Karno (sesepuh) yang kebetulan abah haji Karno punya jamaah pengajian. Tetapi beliau tidak punya majlis/pesantren. Dan kebetulan beliau pada waktu itu sering sakit-sakitan dikarenakan faktor usia.  Maka dengan berat hati saya (Iwan) mengabulkan permintaan masyarakat tersebut dengan permintaan saya terhadap masyarakat. Saya hanya satu/dua kali saja ikut mengajar  dipengajian abah haji. Masya Allah, keinginan lain dengan kenyataan. Setelah satu/dua kali saya ikut mengajar ternyata jamaah ingin saya terus mengisi pengajian tersebut, termasuk abah haji karno. Maka dengan berat hati permintaan masyarakat saya terima. Hari berganti hari, datanglah minggu begitu pula seterusnya. Tak terasa sudah 2 tahun saya ikut abah haji mengajar. dikarenakan masjid yang dipakai untuk tempat pengajian sudah banyak yang rusak, terpaksalah masjid itu harus dibangun/direnovasi. Otomatis pengajian pun harus diliburkan, entah berapa lama. Wallahua’lam..

Terlintas dalam pikiran saya ingin membangun majlis ta’lim. Dan keinginan saya, saya sodorkan kepada abah haji dan tokoh masyarakat setempat. Alhamdulillah masyarakat memberikan respon. Dengan niat yang ikhlas dan keinginan yang kuat, saya bersama masyarakat memulai memanfaatkan tanah yang mana posisi tanah tersebut sangat curam. Tapi dengan gigih, saya dan masyarakat tak kenal lelah bekerja untuk meguruk tanah yang curam tersebut.dan dibantu oleh para pemuda yang bertugas keliling mencari dana. Awal tahun 2007, saya mulai membangun majlis/pesantren . namun kendala/masalah yang saya hadapi kala itu adalah terbentur dengan dana. Oleh karena itu saya coba untuk membuat PIAGAM ( surat ijin mendirikan bangunan ) untuk mencari dana kesetiap instansi pemerintah. Namun Allah berkendak lain, sampai sekarang bangunan majlis belum 100% selesai. Walaupun memang sudah layak pakai. Itulah sedikit sejarah awal berdirinya pesantren/majlis ta’lim dikampung Batulingga. Harapan saya, saya memohon doa dan uluran tangan para dermawan agar pembangunan pesantren/majlis ta’lim kami cepat terselesaikan. Demi untuk mensiarkan ajaran agama islam. Agar ada generasi yang dapat meneruskan perjuangan kami. Amin..

wassalam…

A. IWAN FAZAR